Minggu, 15 September 2013

Heart Quay


Judul : HEART QUAY
Penulis : Putu Felisia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-9762-1
248 Halaman

Sinopsis :
“Apakah pernah berpacaran, sehingga berhak meminta putus? Apakah pernah memiliki sehingga berhak merasa kehilangan?”Kalimat yang terucap dengan mantap dan jelas dari mulut Zoya itu menggoreskan kepedihan bagi Elang Angkasa. Menghancurkan dua hati yang pernah menyimpan rasa.

Zoya berharap semua kenangan pahitnya bersama Elang bisa pudar seiring waktu. Namun kenyataan berkata lain. Bahkan ketika jarak semakin jauh dan tahun-tahun berlalu... bahkan ketika Elang memutuskan untuk menikah dengan Tiara, sahabatnya sendiri.

Dalam perjalanan ke Singapura menuju pernikahan Elang dan Tiara, Zoya bertemu Kenneth Yang, laki-laki menyebalkan yang skeptis dan lebih akrab dengan gadget daripada manusia. Dari lelaki yang menyebalkan, Kenneth berubah menjadi lelaki yang penuh perhatian pada saat terapuh Zoya dan menumbuhkan kepercayaan gadis itu kembali akan cinta.Di Marina Bay Sands, patahan hati, lipatan kenangan, kebencian dan rindu, semua terungkap. Ketika setiap hati akhirnya harus mengambil pilihan sulit, apakah bisa mereka mengosongkan hati dan membuka kesempatan untuk cinta yang baru?

Pemikiran saya tentang buku ini :


Sebelumnya saya masih belum paham bener novel amore itu gimana, trus beda dengan metropop apa? (duh, maafkan ketidak-tau-an saya ini) akhirnya setelah nanya ke mbah gugel, saya nemu jawabannya di blog kumpulan sinopsis buku dan akhirnya saya baru ngeh, apalagi ini merupakan novel amore pertama yang saya baca *oke, abaikan.

Heart Quay menceritakan tentang Zoya yang karena atas dasar persahabatan terbang ke Singapura untuk pertama kalinya untuk menghadiri undangan pernikahan Tiara dengan Elang, lelaki yang pernah mengisi masa lalunya. Penerbangan pertama yang sebagian orang sangat menyenangkan untuk dilalui (termasuk saya yang agak norak, apalagi keluar negeri) tidak berlaku bagi Zoya yang karena merasa kurang sehat (ntah karena nervous pertama terbang atau karena deg-degan bakal ketemu Tiara dengan calon suaminya) diperburuk dengan adegan yang kurang menyenangkan dengan seorang lelaki Singapura yang cuek tapi sangat ramah dengan gadgetnya, tipikal sebagian orang jaman sekarang.

"Takdir telah mengatur semuanya dengan sangat aneh. Mempertemukan dua hati, lalu memisahkan"

Takdir pula lah yang mempertemukan Zoya dengan Kenneth Yang, pria cuek di pesawat yang membawa mereka. Lagi-lagi Zoya berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan.

"Aku bertemu dua gadis bodoh yang tidak bisa membaca!" Kenneth Yang menghela napas kesal ketika memasuki lounge bandara itu. (tapi sepertinya kekesalan itu tidak berlangsung lama ketika disaat yang sama Kenneth kembali mengingat pertemuannya dengan Zoya)

Kekuatan cinta kembali berbicara, ketika akhirnya Zoya kembali bertemu dengan Tiara dan Elang, memori-memori masa lalunya kembali hadir yang membuat perasaan Zoya semakin kacau dan diperburuk dengan perkataan orang tua Elang. 

"Ternyata kau masih punya nyali untuk muncul dihadapan kami, apalagi yang kamu inginkan dari kami? seharusnya aku membunuhmu!"

"Kau mungkin tak tahu, Meski aku bukan Heathcliff, tapi rumahku benar-benar seperti Mansion Wuthering Heights," Elang berkata. "Saling mendendam. Saling menjatuhkan. Hidupku memang terlihat mudah, namun sebenarnya sama mengecewakannya dalam hidupmu. Berada dalam keluarga seperti itu--"

Zoya yang galau dan sakit hati memilih kabur dan melepaskan sedikit bebannya dengan berjalan-jalan di jembatan panjang yang menghubungkan Clarke Quay dan Boat Quay sambil bernyanyi mellow kembali bertemu Kenneth dan pada lelaki yang baru dikenalnya itu Zoya menumpahkan isi hatinya. (duh mbak, untung ketemu orang baik, selama saya backpackeran saya belum nemu orang baru yang bisa diajak curhat, abaikan!)


"Ah, takdir...apa yang dia miliki hingga takdir membuat gadis ini memasuki hidupnya? secara tak sengaja, satu harapan tiba-tiba datang. Begitu nyata. Sementara perasaan yang sebelumnya menghilang ternyata sepercik dalam diam."


Zoya yang mulai merasa nyaman dengan Kenneth, perlahan-lahan mulai kembali merasakan cinta. Tapi, masa lalu yang terus mengusiknya harus diselesaikan sampai tuntas dan dimalam sebelum pernikahan Elang-Tiara, Zoya mengakhiri cinta yang telah menyakitinya bertahun-tahun. Tiara, Sahabatnya  malah menyalahkan atas hubungan cinta masa lalunya. Tiara yang sangat mencintai Elang dan bersedia melakukan apa saja demi Elang dengan egoisnya mencampakkan Zoya. "Friends Forever" ternyata tidak berlaku dalam soal percintaan *miris.

Tentang Tokohnya...

Menurutku Zoya terlalu galau dengan cinta masa lalunya, masih memikirkan Elang Angkasa. Ya, sah-sah aja sih mbak, tapi kalau orang tuanya sudah merendahkan kita, ngapain lagi dipikirkan hubungan yang sudah jelas arahnya gimana, apalagi Elang yang tidak berbuat banyak untuk kejelasan hubungan mereka. Berbeda dengan Kenneth yang jelas-jelas sudah melakukan banyak hal untuk Zoya. 

Sadewa Angkasa tertawa penuh ejekan, bergeming di depan Zoya dengan sikap Arogan. Tanpa perasaan, Sama seperti tiga tahun lalu, dia selalu menganggap Zoya debu yang tidak berharga. Berbeda jauh dengan keluarga mereka yang cemerlang bagaikan permata.

Sedangkan Tiara, tipikal perempuan yang rela melakukan apa saja demi ambisinya bahkan tega menyingkirkan sahabatnya sendiri. Tapi, setidaknya Tiara memiliki sikap dan berani menempuh jalan yang menjadi pilihannya walau itu menyakiti sahabatnya.

"Antara cinta atau persahabatan. Lama sekali aku memikirkannya Zoy.. namun masalahnya dalam hidup sering kali kita harus memilih... Aku mencintai Elang, Zoy." 

Dan Elanglah yang ingin saya benyek-benyek sambil teriakin "udah mau nikah, masih juga ngegalauin anak gadis orang!! tanggung jawab dong ke Tiara!!"  dan Santi, saya tidak terlalu ingat peran dalam hubungan mereka, karena sepertinya Santi hanya pemanis saja padahal Santi juga sahabat Zoya dan Tiara (maafkan saya mbak Santi) namun, ada satu kalimat yang sangat saya sukai dari Santi :

 "Aku tidak tahu harus membela siapa, kalian berdua sama-sama sahabatku. Aku harap, kalian berdua akan sama-sama mendapatkan kebahagiaan." 

Menjadi sahabat tidak harus memihak salah satu jika ada perselisihan, karena mereka punya pemikiran masing-masing dan sudut pandang yang berbeda. Cukup menjadi pendengar dan penengah saja *kok saya malah curhat?

Endingnya?
Ibaratnya Zoya itu berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian. Agak klise memang, hehehe.



P.s Heart Quay juga mengambil Wuthering Heights sebagai latar ceritanya, jadi keingat Bella Swan dan saya belum pernah baca buku tersebut. 







*Review ini saya tulis juga dalam keadan galau T_T

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...