Rabu, 16 September 2015

Sabtu Bersama Bapak

Judul : SABTU BERSAMA BAPAK
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagasmedia
ISBN : 979-780-721-5
278 halaman, cetakan ke I, 2014
My Rating : 5/5

Blurb :


“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.


Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan..

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
Buku ini menceritakan tentang  kehidupan Cakra dan Satya setelah Bapak pergi. Kepergian bapak meninggalkan hal yang sangat berarti, sebuah video yang dibuat oleh bapak untuk menemani mereka melangkah agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik dari sang bapak sendiri. Sabtu  menjadi hari yang ditunggu Cakra dan Satya, karena di hari Sabtu setelah azan Ashar, bu Itje, mamah mereka akan memutar sebuah video dari bapak. Video tersebut bukan hanya berisi jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di benak mereka, tapi juga sebuah pembelajaran, pesan, saran dan bagaimana seharusnya menjalani kehidupan agar hidup tidak sia-sia dan berbuah penyesalan. Buku ini bukan hanya tentang Bapak dan anak, bagi saya buku ini sarat makna.

Saya bingung saat mereview sebuah buku bagus karena saya pasti akan melantur kemana-mana. Bukan berarti saya suka mereview buku yang tidak terlalui saya sukai. Mereview buku yang sangat saya sukai seperti bercerita panjang lebar yang isinya terkadang bisa menyerempet kemana-mana dan bisa saja tidak terlalu penting. Ini saja saya sudah ngelantur kemana-mana #self toyor.

Hampir seluruh buku ini adalah favorit saya. Video-video bapak, Cakra, Satya, bu Itje, Rissa, Ayu dan bapak sendiri adalah favorit saya. Bahkan saya juga menyukai rekan kerja Cakra (saya dapat membayangkan bagaimana interaksi Cakra dan stafnya di departemen Micro Finance, menurut saya kantor Cakra adalah salah satu tempat kerja yang asik). Saya juga menyukai bagaimana Cakra mempersiapkan dengan baik hidupnya sebelum memutuskan menikah #ehem dan bagaimana Satya berusaha menjadi bapak dan suami yang lebih baik seperti yang diajarkan bapak. Membaca buku ini membuat saya tertawa, menangis dan kangen ayah. Cinta Bapak dan Ibu memang berbeda, tapi Bapak mempunyai caranya sendiri dalam mewujudkan cintanya #peluk ayah.

Bukan Berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian (P.21)

Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberpa orang berkata, "prestasi akademis itu gak penting. Yang penting itu attitude". Kemudian mereka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla. Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting. Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membuka lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain. Kalian punya waktu untuk banyak hal. Asah soft skill kalian. Belajar juga demi akhlak yang baik. Kembangkan bakat kalian, apa pun itu. Luangkan waktu untuk semua itu. Tapi satu aja, jangan lupa sama tiketnya. (P.52)

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak. (P.106)

Harga diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak kedalam hati. (P.120)

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat bukan yang saling mengisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.  Find someone complimentary, not supplementary. (P. 216)

Jika menulis hal-hal favorit dibuku ini, saya seperti menulis ulang isi buku. Buku ini adalah salah satu  buku terbaik yang pernah saya baca. Semua yang dituliskan penulis membuat saya terpikat. Tidak hanya video Bapak (dan bapak sendiri yang pastinya seseorang yang luar biasa), Cakra dan Satya yang saya favoritin. Saya juga belajar banyak dari Ayu, bagaimana memilih pasangan yang baik dan tidak hanya melihat seseorang dari penampilannya. Salah satu bagian favorit saya adalah saat blind datenya Cakra dan Ayu di Museum Fatahillah. Dari bu Itje dan Rissa saya belajar bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik. Seperti yang sudah saya tulis diawal, buku ini sarat makna dan saya menyesal menimbunnya terlalu lama.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...