Senin, 26 Oktober 2015

People Like Us

Judul : PEOPLE LIKE US
Penulis : Yosephine Monica
Penerbit : Haru Publisher
ISBN : 978-602-7742-35-2
330 halaman, cetakan ke I, 2014
My Rating : 3.5/5

Blurb



Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.
Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.

Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.
Tentang impian mereka,
tentang cinta pertama,
tentang persahabatan,
tentang keluarga, juga tentang... kehilangan.

Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.

Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.

Aku tidak peduli.
Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.

Kalau begitu, kita mulai dari mana?
Amelia Collins menyukai Benjamin Miller. Amy menyukai Ben sejak middle school tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengan Ben. Satu-satunya pembicaraan yang pernah mereka lakukan adalah saat perayaan natal di kursus musik mereka, setelah itu Ben pindah dan mereka tak pernah bertemu lagi.

Lebih dari setengah tahun setelah Amy kehilangan Jejak Ben, secara tak sengaja anak lelaki itu mendaftar di high school yang sama dengan Amy. Amy bertemu Ben namun tak sekalipun Amy menghampiri Ben untuk sekedar menyapa atau berbasa basi tentang kursus musik mereka dahulu. Amy tak bisa melakukan apa-apa untuk memperjuangkan perasaannya. Amy hanya mampu berada disekitar Ben hingga seantero sekolah mengetahui bahwa Amy menyukai Ben dan Amy tak mampu berbuat banyak untuk meredam berita tentang perasaannya yag terlanjur beredar.

Ben menjauhi gadis itu dan segala sesuatu tentangnya. Ben yang selalu memikirkan banyak hal dan terkadang sinis menganggap Amy seorang penguntit hingga suatu hal menimpa Amy membuat segala sesuatu tentang mereka berubah. 

Saya sudah lama mendengar tentang buku ini, apalagi saat Penerbit Haru mengadakan Meet and Greet di Medan dan Yosephine, penulis People like us juga menghadiri event tersebut. Dari M&G tersebut saya baru mengetahui bahwa Yosephine berasal dari Medan. Ketika seseorang menanyakan tentang review buku, Yosephine bercerita belum ada orang Medan yang mereview bukunya. Saat mendengar hal tersebut saya dan mak Put memutuskan untuk membaca bukunya walau buku ini baru selesai dibaca beberapa bulan kemudian. FYI, buku ini lumayan susah di cari di Gramedia Medan.

Membaca buku ini seperti mendengarkan seseorang bercerita. Apalagi ketika saya menemukan semacam prolog yang mengawali setiap Bab dan perpindahan narasi. Saya tidak terlalu menyukai peletakan prolog singkat tersebut, membuat saya seperti dituntun harus kemana saya berfikir. Hingga di bab terakhir saya baru mengetahui, kegunaan prolog singkat tersebut dan tetap membuat saya kurang nyaman :D

Kisah yang ditulis oleh Yosephine bukan sesuatu yang baru. Saat saya membaca buku ini saya teringat dengan The Fault in Our Stars yang diakui penulis sebagai salah satu inspirasinya. Tapi saya menyukai gaya menulisnya Yosephine walau tidak terlalu detail dengan setting yang digunakan. Saya menyukai bagian Ending buku ini, mengingatkan saya pada seorang sahabat saya yang berjuang dengan kanker. Walau kanker mengalahkannya, sahabat saya tersebut menang dihati kami semua. Kepergian sahabat saya meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran. Saya memahami apa yang dirasakan Ben, Lana dan orang-orang yang Amy tinggalkan. Karena titik terberat di mana seseorang pergi adalah bagaimana orang-orang yang ditinggalkan merelakan dirinya, memaknai hidup dan menjalani realitas. Saya menangis pada bab ini, saat saya mengingat Amy saya seperti melihat sahabat saya yang pribadinya lebih ceria dari Amy dan optimis menjalani hidup, ketika saya mengingat Ben, saya seperti berkaca pada saat saya kehilangan sahabat saya #maafkan saya yang tiba-tiba curhat. Ben sangat beruntung bisa sedekat itu dengan Amy yang ternyata jauh dari perkiraan buruk Ben. Amy membawa banyak dampak dan perubahan positif bagi Ben dan memang seseorang akan merasa kehilangan saat kita sadar ada jarak yang terbentang jauh yang tidak dapat kita sebrangi sesegera mungkin sesuka hati.

"Kau tahu, aku sangat kagum padamu. Kau bisa menyentuh dan mengubah kehidupan orang-orang, meski kau sudah tak ada lagi disini sekarang, itu hal yang keren."

Ini agak aneh. Amy seperti musim panas yang cerah. Ketika dia ada di sana, tak banyak orang yang akan menoleh ke arahnya dan memperhatikannya. Namum ketika dia pergi, semua orang mendadak menginginkannya kembali.

Begitulah manusia. Mereka punya terlalu banyak hal yang ingin dikatakan pada seseorang yang telah melangkah pergi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...