Jumat, 27 Januari 2017

Angel In the Rain

Judul : ANGEL IN THE RAIN
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagasmedia
468 Halaman, Cetakan ke I, 2016
My Rating : 3/5

Masih ingatkah kalian dengan seorang pemuda yang suka memberi julukan? atau biar kuperjelas lagi, seorang pemuda yang mengejar cintanya ke London dan bertemu dengan Goldilocks berpayung merah. Ya, dia adalah Gilang. Maukah kuberitahu apa yang selanjutnya terjadi dengan pemuda itu?

Sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin, tapi kisah ini diceritakan sendiri oleh Goldilocks berpayung merah itu. Aha, kalian jangan kaget karena bukan hanya Gilang yang bertemu dengan Goldilocks. Aku mengenal Goldilocks karena kecintaanku terhadap hujan. Hujan memiliki sihir yang banyak, terkadang hujan membawa kenangan yang sebenarnya sudah disimpan. Ah, maafkan aku yang mulai melantur kemana-mana.


Baiklah, aku akan memulai kisah pemuda tersebut yang menurut Goldilocks adalah pemuda lucu. Gilang bertemu kembali dengan Ayu, oh aku lupa bertanya, kalian masih mengingat Ayu kan? Gadis yang mencari Wuthering Heights cetakan pertama di setiap toko buku London. Benar, ini seperti tebakan kalian. Kisah ini tentang Gilang dan Ayu.

Menurutku tidak ada yang terlalu istimewa. Kisah mereka tentang melepaskan masa lalu dan menerima cinta yang baru tanpa ragu. Seperti yang dikatakan oleh ibunya Ayu

Berhenti melihat ke belakang. Cukup. Jangan menyakiti diri sendiri lebih dalam lagi. Demi kebaikanmu, relakan apa yang sudah lewat. Masa lalu harus tetap dimasa lalu. Belajar melupakannya. Belajar untuk melepaskan, Nak.

Mulanya Pertemuan Gilang dan Ayu berkat campur tangannya Goldilocks berjalan lumayan lancar walau dilalui dengan insiden kecil. Ternyata Ayu membeli buku yang dinginkan Gilang di London. Pertemuan-pertemuan selanjutnyapun berjalan mulus dan ketika Ayu perlahan membuka diri, Ning sahabat dan masa lalu Gilang muncul. Dan seperti kebanyakan sahabat lainnya, Gilang menghabiskan banyak waktu untuk Ning. Gilang mulai melewatkan janji bertemunya dengan Ayu, kencan akhir bulannya yang dibatalkan dan aku agak kesal dengan Ning yang masih merasa Gilang adalah miliknya.

Aku juga agak kesal dengan pertemuan terakhir mereka yang sebenarnya dapat diakhiri dengan baik. Pertemuan yang membuat mereka terpisah sampai beberapa tahun. Ya ampun Ayu, bukankah jaman sudah maju. Mengapa tidak mengabari Gilang kalau akan datang terlambat? menurutku Ayu dan Gilang terlalu sibuk dengan perasaan melankolisnya. 

Ah, aku tidak tahu harus bercerita apa lagi. Aku terkadang tidak terlalu fokus saat Goldilocks bercerita. Aku sibuk dengan kekesalanku terhadap Gilang yang suka memberi julukan kepada setiap orang yang ditemuinya dan perasaan melankolis yang tidak ada habisnya, aku gregetan dengan Ayu yang menyalahkan orang lain karena cintanya kandas dan Ning yang sok iyeh (maafkan aku Goldilocks, tapi setidaknya aku lega dengan ending kisah mereka). Saranku temuilah Goldilocks dan tanyalah tentang kisah Gilang-Ayu, aku yakin dia akan sangat senang menceritakannya. 

Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Hujan pasti berhenti. Setelahnya, kau akan melihat pelangi. (P.430)

P.s. (bukan) review ini terjadi karena baca bareng dengan BBI Medan, jangan lupa untuk membaca review mereka di Perpetual Romanza, Fiction and me, Ocemei's little book dan Absurd Reader

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...