Rabu, 08 Februari 2017

Kisah absurd dalam Jakarta sebelum pagi

Judul : JAKARTA SEBELUM PAGI
Penulis : Zggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit : Grasindo
My Rating : 5/5

Itu adalah akhir dari satu cerita. Ada cerita lain yang baru dimulai. Dan, cerita lain yang sedang berlangsung.

Pernahkah saat membaca, buku tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam? aku mengalaminya saat selesai membaca Jakarta sebelum pagi. Awalnya aku bingung dengan apa yang ditulis Ziggy dan berulang kali membatin, "ini sebenarnya tentang apa sih?" saking absurdnya dan aku nggak mempunyai gambaran kisah ini sama sekali.

Tapi lama kelamaan, kisah absurd yang ditulis Ziggy membuatku penasaran dan ketagihan. Kisah ini bukan hanya tentang romance receh yang bikin diabetes. Buku ini seperti nano-nano. Mulai dari absurd, bikin ngakak, gila, sedih dan memiliki makna yang kalau dipikir-pikir sangat dalam dan aku bingung harus memulai dari mana untuk mereview buku ini. Aku sangat kesulitan mereview buku bagus, karena pasti akan hilang fokus saking semua hal ingin dibahas.

Buku ini meceritakan tentang Emina yang pikiran dan bahan omongannya terpengaruh dari buku yang dibacanya. Saat ini Emina terpengaruh dengan babi-babi di Animal Farmnya George Owell. Saking terpengaruhnya Emina sampai membuat kasta babi di dunia nyata mulai dari babi asap, babi cilik, babirusa (yang bikin bingung sebenarnya babi atau rusa) sampai dengan babi steril. Emina punya temen yang syukurnya mengerti dan memahami Emina yang terkadang menjadi voice of reasonnya Emina. Well, persahabatan Emina dan Nissa ini sebenarnya jenis persahabatan yang bikin iri, walau kadang mereka adu argumen tapi mereka tetep long lasting. Emina ini punya keluarga yang semuanya Jompo (Datuk yang suka menggeram, neneknya (istri datuk) dan Nin, nenek genit adik datuk yang suka sama kakek-kakek tetangga sebelah, Pak Meneer). 

Suatu hari Emina menerima paket bunga hyacinth biru, mawar dan melati yang diantar balon perak
tanpa nama pengirim. Didorong rasa penasaran, Emina mencari stalker dirinya walau sudah diperingatkan oleh Nissa. Pencariannya mengantarkan Emina kepada toko bunga di lingkungan Apartemen dan berkenalan dengan Suki, gadis kecil yang gaya dan cara bicaranya seperti orang dewasa (duh, perkenalan Emina dan Suki itu bikin ngakak). Singkat cerita, akhirnya Emina tahu kalau sang pengirim bunga adalah tetangga apartemennya, Abel yang memiliki suara fobia dan sentuhan fobia. Jadi, apa yang menarik dari kisah ini? Semua, semuanya menarik (maaf, jawaban dan reviewku nggak banyak membantu). Oya, aku lupa memberi tahu bahwa bukan hanya bunga yang dikirim Abel tapi juga potongan-potongan surat cinta yang berlatar gedung-gedung tua Jakarta. Ketika Emina dan Abel mulai berteman dan dekat, mereka memutuskan untuk menyusuri semua latar surat tersebut pada jam 3 pagi.

Seperti yang aku katakan buku ini bukan hanya tentang romance tapi juga tentang memaafkan, berani menghadapi kenyataan, berani mengambil keputusan dan hal-hal lainnya yang penuh makna. Saking bagusnya buku ini, hampir semua halamannya aku bookmark (aku baca versi ebook via scoop). Emina juga karakter favoritku. Aku jarang ngefavoritin tokoh cewe dan Emina pengecualian. Dia berani jadi dirinya sendiri. Nggak takut dicap aneh dan hubungannya dengan Abel walau awkward tapi sweet. Aku juga menyukai karakter-karakter lainnya seperti Suki, Pak Meneer, bahkan datuk yang suka menggeram, LOL.

Karena buku ini quotable, berikut penggalan kalimat-kalimat favoritku (kalau semuanya aku tulis, serasa nulis ulang buku ini, Lol)

"Kadang-kadang, orang membaca buku supaya dikira pintar. Lalu mereka membaca buku sastra terkenal, buku yang mendapatkan penghargaan. Dan, meskipun mereka nggak menyukainya, mereka bilang sebaliknya karena ingin dianggap bisa memahami pemikiran sastrawan kelas atas. Ini adalah hal bodoh. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar; bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar."

"Hidup lebih sederhana ketika otak cuma sekedar bagian dari menu makanan padang"

"Selama ini, kupikir hobi itu cuma terbatas pada makan." (Ini gue bangeeett, LOL)

"Lagian, rasanya bego kalau terus-terusan sedih, padahal ada banyak yang harus dilakukan dan ada banyak makanan enak."

Tapi, kita semua merasa sedih, kadang-kadang. Bukan karena terjebak di masa lalu, tapi karena kita perlu merasa sedih, kadang-kadang. (Membaca tanggapan Nissa saat Emina curhat di bab 'saat bahkan lontong sayur pun tak bisa lagi membantu' itu agak-agak gimana ya, heartwarming :D)

Mungkin beginilah kematian seseorang---kenangan tetangnya akan tetap ada selama beberapa saat, sebelum akhirnya benar-benar hilang. senyap.


"Love's like booger, right? Orang-orang mencari, dan ketemu. Kadang-kadang gagal dan cuma membuat hidung sakit dan lubangnya tambah besar. kadang-kadang ketemu, tapi karena kering, waktu ditarik, rasanya sakit. Seperti Upil."

"Kenapa harus repot-repot mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan, kalau yang paling penting adalah sekarang---saat ini? Emina, saat ini saya sayang kamu. Yang paling penting adalah, kamu juga menyayangi saya, kamu boleh bicara tentang babi atau upil kapan saja kamu mau. Dan, selama saya menyayangi kamu, saya akan selalu mendengarkan." (OMG, aku jadi pengen punya Abel juga :D)

Jika kalian ingin membaca buku yang anti mainstream, bacalah buku ini dan kalian akan merasakan bagaimana absurdnya dunia Emina yang sialnya bikin nagih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...