Selasa, 08 Desember 2015

Denting Lara

Judul : DENTING LARA
Penulis : K. Fischer
Penerbit : Bhuana Sastra (BIP)
ISBN : 9786022498674
317 halaman, cetakan ke I, 2015
My Rating : 3/5

Blurb



Esa tinggal hanya dengan ibu dan pengasuhnya dari kecil. Ibunya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, membuat Esa tak merasakan kasih sayang. Terlebih, ayahnya menikah lagi dengan wanita yang tak menginginkan "boncengan" dari suami barunya.

Di sekolah, karena beberapa kali menolak untuk diajak clubbing, Esa kehilangan sahabatnya Ia bahkan dijauhi teman-teman satu sekolah.

Saat Esa merasa sendirian, sosok Erik datang menemani hari-hari Esa. Dengan Erik, Esa menemukan jati dirinya. Namun saat Esa mulai mencintai Erik, ibunya malah melakukan hal di luar dugaannya. Keadaan semakin parah ketika ayahnya tahu Esa menjalin hubungan dengan lelaki yang berusia nyaris dua kali umur anaknya.


"Mama tahu kamu cemburu mama bahagia! Kamu iri! Kamu sirik! Lihat dirimu! nggak ada cowok yang mau sama kamu. makanya kamu nggak suka mama punya pacar! Kamu iri mama dandan cantik! Kamu sirik mama beli tas baru! Semua cuma karena kamu cemburu! Iri! Dengki! kamu nggak akan pernah laku! Nggak akan ada cowok suka denganmu! Dengar itu Esa!"

Esa gadis berusia tujuh belas tahun menjadi korban perceraian orang tuanya. Esa tinggal bersama Bi Titin dan sang mama yang sering mengacuhkannya. Mama Esa lebih memilih bersenang-senang dengan geng arisannya atau bersama pacar-pacar barunya. Sedangkan papanya telah menikah lagi dan hanya menganggap tanggung jawabnya tuntas dengan mentransfer sejumlah nominal uang setiap bulan ke rekening Esa.

Mempunyai mama yang hanya peduli dengan gaya hidupnya membuat Esa tidak seperti remaja lain. Esa juga harus memikirkan nasib pengasuhnya dan uang belanja yang sering tidak diberikan oleh mamanya. Esa juga harus kehilangan sahabatnya ketika menolak untuk ikut clubbing. Kehidupan mereka yang tampak kaya diluar membuat Esa harus lebih berhati-hati menghabiskan uang pemberian papanya. Papanya akan marah jika Esa meminta uang lebih atau menalangi kebutuhan rumah.

Kehadiran Erik sebagai penyewa paviliun rumahnya membuat kehidupan Esa agak berwarna, walau pertemuan pertama mereka tidak berakhir baik. Erik menganggap Esa hanya remaja labil yang manja dan Esa memandang Erik sebagai mas-mas sombong, hingga suatu hari Erik menemukan Esa bermain kontrabas dengan nada pilu dan sejak saat itu Esa dan Erik menjadi dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Esa merasa nyaman dengan hubungan mereka karena bersama Erik, dia merasa hidupnya lebih berharga. Disaat mereka saling mencintai, mamanya kembali mengibarkan bendera perang. Papanyapun tidak setuju dengan hubungan mereka karena perbedaan usia yang cukup jauh #backsound : mama papa larang.


“Aku tahu sekarang, apa yang terparah dari patah hati. Aku tidak mati. Walau sakitnya membuat semua tulangku lantak, walau sakitnya membuat semua luka menganga, tapi aku terus hidup. Aku akan terus hidup dengan semua sakit di dada.”

Membaca buku ini membuat perasaan saya campur aduk. Melihat Esa menjalani hidup sebagai anak broken home dan memiliki ibu bipolar rasanya sudah cukup sulit. Belum lagi sang ayah yang hanya menganggap beres tanggung jawabnya setelah mengirimkan sejumlah uang. Jika saya diposisi Esa, mungkin saya sudah gila.

Dari awal membaca saya gregetan sama mamanya Esa. Sikap yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu kandung dan hanya ada di ftv-ftv ratapan anak tiri yang tokoh utamanya selalu sengsara membuat saya miris. Apalagi ketika Esa hanya makan dengan kecap, tetapi sang Ibu membeli tas harga puluhan juta agak tidak masuk akal. Tapi saya menyukai proses kedekatan Erik dan Esa, pas dan tidak berlebihan walau dari gambaran yang saya dapatkan, saya tidak merasa Erik setua itu.

Saya menyukai kaver yang digunakan walau menurut saya terlalu simple. Saya juga menikmati gaya menulis mba K.Fischer (sejak membaca berlabuh di Lindoeya, saya penasaran dengan buku-buku K.Fischer yang lain). Walau saya agak merasa aneh dengan kata "sampai lain kali" yang sering digunakan bukan hanya oleh satu tokoh, tapi juga digunakan oleh tokoh lain dan "cinta yang murni" yang membuat saya ngakak beberapa kali, serasa membaca buku roman lawas #selftoyor. Saya juga salut dengan Esa yang selalu menghitung berapa detik yang telah dilalui #ditabok. Saya juga menemukan beberapa typo tapi tidak cukup menggangu.

“Ia mencintai Erik, bukan hanya karena kepribadian Erik menarik hatinya. Tapi ia mencintai Erik, karena bersama Erik, ia lebih menyukai dirinya sendiri.”

2 komentar:

  1. "sampai lain kali" pas aku menemukannya aku kayak baca buku terjemahan,,hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, awalnya aku biasa aja tapi pas yang lain juga selalu ngomong kayak gitu agak (ngerasa) aneh juga :D

      Hapus

Review Buku di purplebookish.com merupakan pendapat pribadi yang berdasarkan penilaian subjektif terhadap buku yang saya baca. Begitu pula dengan postingan non review yang juga bersifat opini pribadi.

Purplebookish.com tidak memaksakan pembaca untuk setuju dengan semua tulisan yang dipublish. Jika ada yang ingin disampaikan atau berpendapat lain sila menulis di kolom komentar dengan bahasa yang sopan :)

P.s Saya akan menghapus komentar yang tidak berkaitan dengan postingan blog dan spam.

Mohon untuk tidak menyadur/mengcopy sebagian atau seluruh isi blog tanpa ijin :)

Terima Kasih :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...