Tampilkan postingan dengan label Indonesian Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesian Fiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

Tanah Surga Merah, antara Politik dan Kritik Sosial


Sekarang arah telah berbalik tajam, aku bukan lagi pahlawan melainkan penjahat buronan diintai polisi dan diburu orang-orang Partai Merah yang menaruh dendam kesumat.

Adalah Murad mantan pejuang kemerdekaan Aceh dan mantan anggota Partai Merah yang kini menjadi buronan polisi dan Partai Merah karena dianggap sebagai pemberontak. Setelah sekian lama melarikan diri, akhirnya Murad kembali ke Aceh, ke kota kelahirannya. Setelah masa damai, banyak mantan pejuang kemerdekan Aceh menduduki kursi kepemerintahan. Ada juga diantara mereka yang menjadi kepala daerah.

Biasanya, masalah yang kerap mereka bincangkan hanyalah seputar proyek, jabatan dan perempuan. Biarpun sudah menjadi anggota dewan dan pejabat terpandang, sifat kekanak-kanakan mereka tak pernah berkurang. Inilah yang terjadi bila orang-orang rakus dan bodoh menjadi penguasa negeri.

Kepulangan Murad tidak berjalan mulus meskipun dia telah menyamar menjadi orang lain. Banyak dari teman-temannya dulu yang sekarang menjadi musuhnya tetap mengenali Murad. Belum apa-apa Murad telah dikeroyok beramai-ramai, walau akhirnya mereka percaya bahwa Murad bukanlah Murad, sang pemberontak partai Merah. Murad menumpang di rumah Abduh, sahabatnya dulu yang sekarang menjadi guru sejarah. Abduh seringkali menyayangkan budaya baca buku yang sangat rendah di Aceh dan herannya budaya pacaran menjurus mesum meningkat di Aceh.

Rabu, 05 September 2012

Ibuk


Judul : Ibuk
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia
Halaman : 293

Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.

Ibuk, menceritakan perjalanan seorang perempuan yang sederhana dalam membesarkan putra putrinya. Melalui salah satu anak ibuk, Bayek menceritakan perjuangan panjang ibuk dalam mencukupi kebutuhan anak-anaknya dan bagaimana ibuk dengan usahanya yang tak kenal menyerah berhasil membuat anak-anaknya sukses. Bayek mengajak saya menulusuri setiap tempat persinggahan ibuk dan saya tersenyum simpul ketika Ibuk malu-malu mengiyakan ajakan bapak menikah, menagis terharu dengan usaha ibu mengatur kebutuhan dan pendidikan anak-anaknya dan tanpa sadar novel ini mengingatkan saya akan ibuk saya yang walau perjuangannya berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama untuk anaknya.

Ibuk, melalui hidup sebagai perjuangan. Tidak melihatnya sebagai penderitaan

Di novel ini juga Iwan Setyawan kembali mengangkat kisah kehidupannya dan novel ini tidak terlalu berbeda dengan novel sebelumnya, 9 Summers 10 Autumns, hal-hal yang pernah diceritakan dalam 9S10A kembali diangkat dalam Ibuk dengan ditambahi nasehat dan petuah ibuk yang sangat berperan ketika Bayek mengambil keputusan. Ah, membaca novel ini seperti membuka kembali memory dan kenangan saya tentang ibuk. Dan karena saya juga anak rantau, saya juga mengalami kegalauan seperti bayek dalam mengambil keputusan dan sama juga seperti bayek (lagi) walau jarak yang jauh, tapi ibuk terasa dekat melalui berbagai petuah dan nasehat yang disampaikannya *curhat. Iwan Setyawan berhasil membuat saya mewek dan kepengen pulkam.

A mother knows what her child's gone trough, even if she didn't see it her self

...karena cinta tak bisa menunggu



Jumat, 29 Juni 2012

99 Cahaya di Langit Eropa

Kisah Perjalanan Hanum Salsabiela Rais selama mengelilingi Eropa terangkum dalam novel 424 halaman yang sudah sangat lama saya beli di Gramedia akibat terpancing oleh TL di Twitter saya yang sangat berisik ngebicarain novel ini. 

Novel ini lain rasanya karena sedikit demi sedikit melihat sisi lain dari perjalanan mengelilingi Eropa, karena Eropa yang seperti saya tau ternyata tidak hanya melulu soal objek-objek wisatanya tetapi dengan novel ini kita lebih mengenal Eropa melalui sisi agama rahmatan lil 'alamin yaitu Islam. Bahwa dulu Islam dan Eropa memiliki hubungan spesial. Mbak Hanum sangat lugas menguraikan kisah-kisah dibalik suatu objek wisata,  yang membuat saya semakin penasaran uuntuk loncat kehalaman berikutnya, contoh kecil dari kisah mbak Hanum seperti tulisan di hijabnya Bunda Maria, Mezquita di Cordoba-Granada, Haghia Sophia di Turki, Rahasia di Museum Louvre di Paris dan tentu saja Napoleon Bonaparte yang membuat saya terbelalak tak percaya dan mungkin saja memang ituah kebenarannya juga rahasia-rahasia menakjubkan lainnya yang diceritakan Mbak Hanum membuat saya agak gimanaaa gitu :D. 

Agak menyesal kenapa saya baru melahap buku ini sekarang dan melalui buku yang ditulis mba Hanum benar-benar membuat saya lebih jatuh cinta kepada Islam, 4 jempol deh buat mbak Hanum ^^ kalau menurut saya sih, novel ini sangat "RECOMMENDED"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...